IMG_2153 IMG_2167 IMG_2245 IMG_2240

Bukit Menoreh terletak di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah meliputi wilayah Kecamatan Borobudur dan Salaman. Bukit ini terletak di ujung utara Pegunungan Kulon Progo dimana endapan epitermal sulfidasi tinggi dan rendah saling tumpang tindih. Endapan epitermal adalah hasil aktivitas larutan hidrothermal yang berkaitan dengan proses vulkanisme pada kedalaman dangkal dengan temperatur rendah, dengan kedalaman berkisar 1-1,5 km dan suhu antara 50°C-300°C (Guilbert,1986). Perbedaan utama antara endapan epitermal sulfidasi tinggi dan sulfidasi rendah terletak pada kontrol kimiawinya dan jenis fluida yang berperan. Pada epitermal sulfidasi tinggi yang berperan H2SO4,dan didominasi oleh fluida magmatik. Sedangkan pada epitermal sulfidasi rendah yang berperan adalah H2S dan didominasi oleh fluida meteorik. Melalui Fieldtrip Soceiety of Economic Geologist UGM-SC yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Oktober 2014, dapat terungkap proses kontrol karakteristik alterasi dan mineralisasi pada batuan di Bukit Menoreh. Dibawah bimbingan Bapak Iswahyudi Agus Nugroho, S.Si. dan Fahmi Hakim S.T., secara singkat dapat disimpulkan petrogenesa batuan di sekitar lokasi sebagai pendukung hasil proses alterasi dan mineralisasi. Alterasi hidrotermal di Bukit Menoreh terdiri dari propilitik, argilik, argilik lanjut, dan silsilifikasi. Litologi yang dapat ditemukan terdiri dari andesit basaltic piroksen, andesit kuarsa feldspar porpiritik, andesit breksi autoklastik, batupasir laminasi, batugamping, dan breksi andesit. Pada lokasi pengamatan pertama merupakan daerah tipe endapan epitermal sulfidasi tinggi dengan alterasi hidrotermal zona propilitik sampai zona argilik lanjut. Zona argilik lanjut dicirikan dengan adanya mineral kuarsa, dickit, alunit, dan pirofilit. Terdapat tekstur khas pada batuan yang ditemukan di zona ini yaitu “vuggy silica”. Vuggy silica memiliki kenampakan seperti lubang – lubang yang tercetak di bagian dalam batu andesit kuarsa feldspar. Proses yang berperan membentuk vuggy silica adalah leaching (pencucian) oleh favor berupa meteolit water mencuci mineral plagioklas. 1 Fase pencucian oleh favor akan membuat mineral plagioklas terangkut dan ikut bersama larutan keluar dari batuan, meninggalkan bekas tempat yang letaknya terpencar pada bagian dalam batuan. Fase berikutnya akan terjadi pada zona alterasi hidrotermal yang lebih lanjut dimana lubang – lubang yang terlah terbentuk akan terisi oleh mineral silika.

Lokasi pengamatan kedua berjarak kurang lebih 1 km dari STA 1, dengan tipe alterasi hidrotermal berupa zona argilik. Zona argilik dicirikan dengan adanya mineral kaolin, illit, dan pirit. Pada  kenampakan di lapangan terdapat batupasir laminasi dengan mineral pernyusun kaolinit dan monmolironit. Keduanya dapat dibedakan dari warna dan teksturnya, mineral kaolinit mempunyai warna putih dan lebih licin sedangkan monmolironit memiliki warna abu – abu dan lebih kasar. Mineral kaolinit sendiri terbentuk melalui proses pengendapan epitermal sulfidasi tinggi dimana perbedaan suhu dan tekanan di bawah permukaan akan menghasilkan mineral yang berbeda. Pada suhu <100o akan menghasilkan mineral hiralosit, pada suhu 100o – 200o menghasilkan mineral kaolinit, sedangkan pada suhu >200o menghasilkan mineral dickit. Lokasi Pengamatan ketiga berjarak kurang lebih 2 km dari STA 1, dengan tipe alterasi hidrotermal zona silisilifikasi. Batuan yang ditemukan pada lokasi ini diperkirakan batu andesit basaltic. Pada tahap lanjut ini ditemukan urat pirit yang sudah mengalami oksidasi sehingga menjadi berwarna kehitaman.  Urat sulfide tersebut teralterasi menjadi mineral peciri endapan epitermal sulfidasi tinggi yaitu goetit, jarosit, limonit, dan hematite.  Goetit berwana coklat kehitaman, jarosit berwarna kuning cerah, limonit berwarna kuning agak gelap, dan hematite berwarna merah marun. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh Bapak Iswahyudi menunjukkan bahwa semakin menuju permukaan gas yang terbentuk dari proses alterasi akan bersifat semakin asam, berkaitan juga lokasi ditemukannya batuannya akan semakin terjal. Kontrol utama yang berperan pada epitermal sulfidasi tinggi adalah litologi dan struktur, dimana perpotongan patahan Gupit merupakan tempat yang baik untuk naiknya larutan hidrotermal dan menyebabkan terjadinya alterasi, sehingga lokasi keterdapatannya pun  menjadi terjal.

Poster